“It is health that is real wealth and not pieces of gold and silver.”

Minggu, 20 Maret 2011

**Rubbish, Human Being, and Environmental Health**

What are you say about this picture??


There are real condition in TPA Jatibarang-Semarang....

A calf dream is run in green field, not in trash field

Can cows producing fresh milk for human being??

Food and Water Borne Disease - Demam Tifoid

Apakah Foodborne Disease atau Penyakit Bawaan Bahan Pangan ?
Foodborne Disease disebabkan akibat konsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi. Pelbagai jenis mikroba penyebab penyakit (patogen) dapat mencemari makanan, hal ini menyebabkan banyaknya jenis infeksi. Sebagai tambahan, zat kimia beracun maupun zat-zat dasar lain yang mengandung bahaya, jika terkandung di dalam makanan yang kita konsumsi pun dapat menyebabkan penyakit.

Apakah Waterborne disease atau Penyakit bawaan air?
Penyakit bawaan air terjadi jika air menjadi tercemar. Agens  penyakit bawaan air mencakup virus, bakteri, parasit dan zat kimia. Agens virus bawaan air dan penyakit yang ditimbulkannya antara lain; virus poliomyelitis (polio) dan virus hepatitis A (hepatitis). Bakteri bawaan air dan penyakit yang ditimbulkannya antara lain, Escherichia coli,salmonella typhi (demam tifoid), shigella spp. (disentri basiler), dan vibrio cholera (kolera). Parasit bawaan air meliputi entamoeba histolytica (amebiasis atau disentri amuba), giardia lamblia (giardiasis), dan cryptosporidiumparvum (kriptosporidiosis). Masing-masing penyakit tersebut dapat menimbulkan akibat yang serius.

Apakah penyakit demam tifoid itu?
Tifoid berasal dari bahasa Yunani yang berarti “smoke”, karena terjadi penguapan panas tubuh serta gangguan kesadaran disebabkan demam yang tinggi. Demam Tifoid adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi. Demam tifoid merupakan penyakit endemis di beberapa Negara berkembang, dimana sanitasi lingkungan kurang dijaga dengan baik. Bakteri tifoid ditemukan di dalam tinja dan air kemih penderita. Penyebaran bakteri ke dalam makanan atau minuman bisa terjadi akibat pencucian tangan yang kurang bersih setelah buang air besar maupun setelah berkemih, Lalat juga bisa menyebarkan bakteri secara langsung dari tinja ke makanan.
Bakteri Salmonella typhi masuk ke dalam saluran pencernaan dan bisa masuk ke dalam peredaran darah. Hal ini akan diikuti oleh terjadinya peradangan pada usus halus dan usus besar. Pada kasus yang berat, yang bisa berakibat fatal, jaringan yang terkena bisa mengalami perdarahan dan perforasi(perlubangan). Sekitar 3% penderita yang terinfeksi oleh Salmonella typhi dan belum mendapatkan pengobatan, di dalam tinjanya akan ditemukan bakteri ini selama lebih dari 1 tahun. Beberapa dari pembawa bakteri ini tidak menunjukkan gejala-gejala dari demam tifoid.

Apa yang menjadi Penyebab penyakit demam tifoid?

Kelas : Psilopsida
Ordo : Psilotales
Family : Psilotaceae
Genus : Salmonella
Species : Salmonella typhi

Habitat Inang bagi Salmonella adalah usus halus manusia dan hewan. Makanan dan minuman terkontaminasi merupakan mekanisme transmisi kuman Salmonella dan carrier adalah sumber infeksi. Salmonella typhi bisa berada dalam air, es, debu, sampah kering yang bila organisme ini masuk ke dalam vehicle yang cocok (daging, kerang dan sebagainya) akan berkembang biak mencapai dosis infekti.

Dimensi Bakteri berbentuk batang, tidak berspora dan tidak bersimpai tetapi mempunyai flagel feritrik (fimbrae), pada pewarnaan gram bersifat gram negatif, ukuran 2 - 4 mikrometer x 0.5 - 0.8 mikrometer dan bergerak. Salmonella typhi merupakan bakteri fakultatif intraseluler. Salmonella juga memiliki dua pathogenicity island yaitu SPI-1 dan SPI-2. SP-2 mengandung gen esensial untuk infeksi sistemik, replikasi intraseluler dan TTSS (type III secretion system) yang melindungi bakteri untuk tetap hidup dari proses degradasi.
Potensi Demam tifoid yang disebabkan oleh Salmonella typhi merupakan penyakit sistemik, bersifat endemik, dan masih merupakan problema kesehatan diberbagai Negara berkembang di dunia.
Salmonella typhi memiliki protein adhesin type-] fimbriae sebagai faktor virulensi yang berpotensi imunogenik untuk membentuk SigA protektif guna menghambat proses adhesi dan kolonisasi sehingga tahap awal infeksinya dapat dicegah. Fisiologis Pada umumnya isolat kuman Salmonella dikenal dengan sifat sifat, gerak positif, reaksi fermentasi terhadap manitol dan sorbitol positif dan memberikan hasil negatif pada reaksi indol, laktosa, Voges Praskauer dan KCN. Sebagian besar isolat Salmonella yang berasal dari bahan klinik menghasilkan H2S. Samonella thypi hanya membentuk sedikit H2S dan tidak membentuk gas pada fermentase glukosa. Pada agar SS,Endo, EMB dan MacConkey koloni kuman berbentuk bulat, kecil dan tidak berwana, pada agar Wilson Blair koloni kuman berwarna hitam berkilat logam akibat pembentukan H2S


Bagaimana distribusi penyakit demam tifoid?
Penyakit ini tersebar merata diseluruh dunia. Insidensi penyakit demam tifoid diseluruh dunia mencapai 17 juta setahun dengan jumlah kematian sebanyak 600.000 orang. Di Amerika Serikat demam tifoid muncul sporadis dan relatif konstan berkisar antara 500 kasus setahun selama bertahun-tahun (bandingkan dengan demam tifoid yang dilaporkan sebanyak 2484 pada tahun 1950).Dengan memasyarakatnya perilaku hidup bersih dan sehat, memasyarakatnya pemakaian jamban yang saniter maka telah terjadi penurunan kasus demam Tifoid, dan yang terjadi di Amerika Serikat adalah kasus import dari daerah endemis. Sekarang sering ditemukan strain yang resisten terhadap kloramfenikol dan terhadap antibiotika lain yang umum digunakan untuk demam tifoid.
Kebanyakan isolat yang dikumpulkan pada tahun 90an dari Asia Tenggara, Asia Selatan, Timur Tengah dan Afrika Timur Laut adalah strain yang membawa plasmid dengan faktor R yang membawa kode resistens terhadap berbagai jenis antibiotika yang dulu umum dipakai untuk mengobati demam tifoid seperti kloramfenikol, amoksisilin, trimetroprim/sulfametoksasol. Demam paratifoid muncul secara sporadis atau muncul sebagai KLB terbatas, mungkin juga kejadiannya lebih banyak daripada yang dilaporkan. DI AS dan Kanada demam paratifoid jarang teridentifikasi. Dari ketiga jenis demam paratifoid, paratifoid B adalah yang paling sering ditemukan, paratifoid A lebih jarang dan yang paling jarang adalah paratifoid C.

Siapakah reservoir penyakit demam tifoid?
Manusia merupakan reservoir bagi tifoid maupun paratifoid; walapun jarang binatang peliharaan dapat berperan sebagai reservoir bagi paratifoid. Kontak dalam lingkungan keluarga dapat berupa carrier yang permanen atau carrier sementara. Status carrier dapat terjadi setelah serangan akut atau pada penderita subklinis. Sedangkan carrier kronis sering terjadi pada mereka yang kena infeksi pada usia pertengahan terutama pada wanita; carrier biasanya mempunyai kelainan pada saluran empedu termasuk adanya batu empedu. Status carrier kronis pada saluran kemih terjadi pada penderita schitosomiasis. Pernah terjadi KLB demam paratifoid di Inggris, sapi perah yang mengeluarkan mikroorganisme Paratyphi B didalam susu dan kotoran mereka diketahui sebagai penyebab terjadinya KLB.
Sembilan puluh persen kasus demam tifoid terjadi pada umur 3-19 tahun, kejadian meningkat setelah umur 5 tahun. Pada minggu pertama sakit, demam tifoid sangat sukar dibedakan dengan penyakit
demam lainnya. Untuk memastikan diagnosis diperlukan pemeriksaan biakan kuman untuk konfirmasi.

Bagaimana cara-cara penularannya?
Sumber penyebab lebih banyak disebabkan kuman yang menempel di bekas cucian gelas, sendok, piring dan sebagainya dengan kondisi air cucian yang tak diganti, tangan yang kotor. Bakteri ini umumnya terdapat dalam makanan yang sudah basi, daging mentah, maupun kotoran.
Penularan terjadi melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi oleh tinja dan urin dari penderita atau carrier. Dibeberapa negara penularan terjadi karena mengkonsumsi kerang-kerangan yang berasal dari air yang tercemar, buah-buahan, sayur-sayuran mentah yang dipupuk dengan kotoran manusia, susu dan produk susu yang terkontaminasi oleh carrier atau penderita yang tidak teridentifikasi. Lalat dapat juga berperan sebagai perantara penularan memindahkan mikroorganisme dari tinja ke makanan. Di dalam makanan mikroorganisme berkembang biak memperbanyak diri mencapai dosis infektif, dimana dosisnya lebih rendah pada tifoid dibandingkan dengan paratifoid.

Bagaimana gejala dan tanda seseorang terserang penyakit demam tifoid?
Biasanya gejala mulai timbul secara bertahap dalam waktu 8-14 hari setelah terinfeksi. Gejalanya bisa berupa demam, sakit kepala, nyeri sendi, sakit tenggorokan, sembelit, penurunan nafsumakan dan nyeri perut. Kadang penderita merasakan nyeri ketika berkemih dan terjadi batuk serta perdarahan dari hidung.
Jika pengobatan tidak dimulai, maka suhu tubuh secara perlahan akan meningkat dalam waktu 2-3 hari, yaitu mencapai 39,4-40°C selama 10-14 hari. Panas mulai turun secara bertahap pada akhir minggu ketiga dan kembali normal pada minggu keempat. Demam seringkali disertai oleh denyut jantung yang lambat dan kelelahan yang luar biasa. Pada kasus yang berat bisa terjadi delirium, stupor atau koma.
Pada sekitar 10% penderita timbul sekelompok bintik-bintik kecil berwarna merah muda di dada dan perut pada minggu kedua dan berlangsung selama 2-5 hari.

Bagaimana cara diagnose penyakit demam tifoid?
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejala dan hasil pemeriksaan fisik.  Untuk memperkuat diagnosis, dilakukan biakan darah, tinja, air kemih atau jaringan tubuh lainnya guna menemukan bakteri penyebabnya.

Bagaimana tatalaksana penyakit demam tifoid?
Tirah baring selama demam sampai dengan 2 minggu normal kembali. Dengan antibiotik yang tepat, lebih dari 99% penderita dapat disembuhkan. Antibiotik yang banyak digunakan adalah kloramfenikol 100mg/kg/hari dibagi dalam 4 dosis selama 10 hari. Dosis maksimal kloramfenikol 2g/hari. Kloramfenikol tidak bias diberikan bila jumlah leukosit < 2000 ul. Bila pasien alergi, dapat diberikan golongan penisilin atau kotrimoksazol. Kadang makanan diberikan melalui infus sampai penderita dapat mencerna makanan. Jika terjadi perforasi usus, diberikan antibiotik berspektrum luas (karena berbagai jenis bakteri akan masuk ke dalam rongga perut) dan mungkin perlu dilakukan pembedahan untuk memperbaiki atau mengangkat bagian usus yang mengalami perforasi.

Apa yang terjadi bila terjadi komplikasi demam tifoid?
·        Sebagian besar penderita mengalami penyembuhan sempurna, tetapi bisa terjadi komplikasi, terutama pada penderita yang tidak diobati atau bila pengobatannya terlambat
·         Banyak penderita yang mengalami perdarahan usus; sekitar 2% mengalami perdarahan hebat. Biasanya perdarahan terjadi pada minggu ketiga.
·         Perforasi usus terjadi pada 1-2% penderita dan menyebabkan nyeri perut yang hebat karena isi usus menginfeksi ronga perut (peritonitis).
·         Pneumonia bisa terjadi pada minggu kedua atau ketiga dan biasanya terjadi akibat infeksi pneumokokus (meskipun bakteri tifoid juga bisa menyebabkan pneumonia).
·         Infeksi kandung kemih dan hati.
·         Infeksi darah (bakteremia) kadang menyebabkan terjadinya infeksi tulang (osteomielitis), infeksi katup jantung (endokarditis), infeksi selaput otak (meningitis), infeksi ginjal (glomerulitis) atau infeksi saluran kemih-kelamin.
Pada sekitar 10% kasus yang tidak diobati, gejala-gejala infeksi awal kembali timbul dalam waktu 2 minggu setelah demam mereda.

Inilah cara-cara penanggulangan demam tifoid ^,^
A. Cara-cara Pencegahan
1). Berikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya mencuci tangan setelah buang air besar dan sebelum memegang makanan dan minuman, sediakan fasilitas untuk mencuci tangan secukupnya. Hal ini terutama penting bagi mereka yang pekerjaannya sebagai penjamah makanan dan bagi mereka yang pekerjaannya merawat penderita dan mengasuh anak-anak.
 2). Buanglah kotoran pada jamban yang saniter dan yang tidak terjangkau oleh lalat. Pemakaian kertas toilet yang cukup untuk mencegah kontaminasi jari. Ditempat yang tidak ada jamban, tinja ditanam jauh dari sumber air dihilir.
3). Lindungi sumber air masyarakat dari kemungkinan terkontaminasi. Lakukan pemurnian dan pemberian klorin terhadap air yang akan didistribusikan kepada masyarakat. Sediakan air yang aman bagi perorangan dan rumah tangga. Hindari kemungkinan terjadinya pencemaran (backflow) antara sistem pembuangan kotoran (sewer system) dengan sistem distribusi air. Jika bepergian untuk tujuan pikinik atau berkemah air yang akan diminum sebaiknya direbus atau diberi bahan kimia.
 4). Berantas lalat dengan menghilangkan tempat berkembang biak mereka dengan sistem pengumpulan dan pembuangan sampah yang baik. Lalat dapat juga diberantas dengan menggunakn insektisida, perangkap lalat dengan menggunakan umpan, pemasangan kasa. Jamban konstruksinya dibuat sedemikian rupa agar tidak dapat dimasuki lalat.
5). Terapkan standar kebersihan pada waktu menyiapkan dan menangani makanan; simpan makanan dalam lemari es pada suhu yang tepat. Perhatian khusus harus diberikan pada salad dan makanan lain yang dihidangkan dalam keadaan dingin. Standar kebersihan ini berlaku untuk makanan yang disiapkan dirumah tangga maupun yang akan disajikan untuk umum. Jika kita kurang yakin akan standar kebersihan ditempat kita makan, pilihlah makanan yang panas dan buah-buahan sebaiknya dikupas sendiri.
6). Lakukan pasteurisasi terhadap susu dan produk susu. Lakukan pengawasan yang ketat terhadap sanitasi dan aspek kesehatan lainnya terhadap produksi, penyimpanan dan distribusi produk susu.
7). Terapkan peraturan yang ketat tentang prosedur jaga mutu terhadap industri yang memproduksi makanan dan minuman. Gunakan air yang sudah diklorinasi untuk proses pendinginan pada waktu dilakukan pengalengan makanan.
 8). Batasi pengumpulan dan penjualan kerang-kerangan dari sumber yang jelas yang tidak tercemar. Rebuslah kerang sebelum dihidangkan. 560
9). Beri penjelasan yang cukup kepada penderita, penderita yang sudah sembuh dan kepada carrier tentang cara-cara menjaga kebersihan perorangan. Budayakan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun setelah buang air besar dan sebelum menyiapkan makanan.
10). Promosikan pemberian air susu ibu kepada bayi yang sedang menyusui. Rebuslah susu dan air yang akan dipakai untuk makanan bayi.
11). Carrier dilarang untuk menangani/menjamah makanan dan dilarang merawat penderita. Lakukan identifikasi terhadap carrier dan lakukan pengawasan terhadap mereka. Pembuatan kultur dari sampel limbah dapat membantu untuk menentukan lokasi carrier. Carrier kronis harus diawasi dengan ketat dan dilarang melakukan pekerjaan yang dapat menularkan penyakit kepada orang lain. Yang bersangkutan dapat dibebaskan dari larangan ini apabila sudah memenuhi persyaratan sesuai dengan peraturan yang berlaku yaitu tiga kali berturut-turut sampel tinja yang diperiksa menunjukkan hasil negatif, khusus untuk daerah endemis schistosomiasis sampel yang diambil adalah sampel urin. Sampel diambil dengan interval satu bulan dan 48 jam setelah pemberian antibiotika terakhir. Sampel yang baik adalah tinja segar. Dan dari tiga sampel yang berturut-turut diambil dengan hasil negatif minimal satu sampel harus diambil dengan cara melakukan lavemen/klisma. Penelitian yang dilakukan akhir-akhir ini menemukan bahwa penggunaan derivat quinolone yang baru yang diberikan secara oral memberikan hasil yang baik untuk mengobati carrier walaupun ada kelainan empedu; untuk mengetahui apakah telah terjadi penyembuhan perlu dilakukan pemeriksaan kultur.
12). Untuk demam tifoid pemberian imunisasi tidak dianjurkan di AS. Saat ini imunisasi hanya diberikan kepada mereka dengan risiko tinggi seperti petugas laboratorium mikrobiologis, mereka yang bepergian kedaerah endemis, mereka yang tinggal didaerah endemis, anggota keluarga dengan carrier. Vaksin yang tersedia adalah vaksin oral hidup yang mengandung S. Typhi strain Ty21a (diperlukan 3 – 4 dosis dengan interval 2 hari), dan vaksin parenteral yang beredar adalah vaksin dosis tunggal yang berisi Vi antigen polisakarida. Vaksin oral yang berisi Ty21a jangan diberikan kepada penderita yang sedang mendapatkan pengobatan antibiotika atau pengobatan anti malaria, mefloquine. Oleh karena sering menimbulkan efek samping yang berat maka vaksin “whole cell” yang diinaktivasi dianjurkan untuk tidak digunakan. Vaksin dosis tunggal yang mengandung Vi antigen polisakarida adalah vaksin pilihan, karena kurang reaktogenik. Dosis booster perlu diberikan kepada mereka yang secara terus menerus mempunyai risiko tertular. Booster diberikan dengan interval antara 2 – 5 thun tergantung jenis vaksinnya. Demam paratifoid: ujicoba dilapangan dengan menggunakan vaksin oral tifoid (Ty21a) memberikan perlindungan parsial terhadap paratifoid, namun perlindungan yang diberikan tidak sebaik terhadap tifoid. 561

B. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitarnya
1) Laporan kepada institusi kesehatan setempat; Tifoid wajib dilaporkan disebagian besar negara bagian dan negara didunia, kelas 2A (Lihat tentang pelaporan penyakit menular).
2) Isolasi: Pada waktu sakit, lakukan kewaspadaan enterik; sebaiknya perawatan dilakukan dirumah sakit pada fase akut. Supervisi terhadap penderita dihentikan apabila sampel yang diambil 3 kali berturut-turut dengan interval 24 jam dan 48 jam setelah pemberian antibiotika terakhir memberikan hasil negatif. Pengambilan sampel tidak boleh kurang dari satu bulan setelah onset. Sampel yang diambil adalah tinja dan urin untuk penderita di daerah endemis schistosomiasis. Jika salah satu sampel memberi hasil positif maka ulangi pembuatan kultur dengan interval satu bulan selama 12 bulan setelah onset, sampai 3 kali beturu-turut sampel yang diambil hasilnya negatif.
3) Disinfeksi serentak: Disinfeksi dilakukan terhadap tinja, urin dan alat-alat yang tercemar. Di negara maju dengan fasilitas sistem pembuangan kotoran yang baik, tinja dapat dibuang langsung kedalam sistem tanpa perlu dilakukan disinfeksi terebih dulu. Dilakukan pembersihan menyeluruh.
4) Karantina: Tidak dilakukan
5) Imunisasi terhadap kontak: Pemberian imunisasi rutin terhadap anggota keluarga, petugas kesehatan dengan vaksin tifoid kurang begitu bermanfaat walaupun mereka terpajan dengan penderita tifoid. Namun vaksinasi masih bermanfaat diberikan kepada mereka yang terpajan dengan carrier. Tidak ada vaksin yang efektif untuk demam paratifoid A. 6) Lakukan investigasi terhadap kontak dan sumber infeksi: Sumber infeksi yang sebenarnya dan sumber infeksi yang potensial harus diidentifikasi dengan cara melakukan pelacakan penderita yang tidak dilaporkan, carrier dan melacak makanan, susu, air, kerang-kerangan yang terkontaminsai. Seluruh anggota grup pelancong yang salah satu anggotanya adalah penderita tifoid harus diamati. Titer antibodi terhadap purified Vi polysaccharide mengidentifikasikan yang bersangkutan adalah carrier. Jika ditemukan tipe phage yang sama pada organisme yang diisolasi dari penderita dan carrier menunjukan telah terjadi penularan.
7) Pengobatan spesifik: Meningkatnya resistensi terhadap berbagai macam strain menentukan jenis obat yang dipakai untuk terapi secara umum, untuk orang dewasa ciprofloxacin oral dianggap sebagai obat pilihan terutama untuk penderita tifoid di Asia. Belakangan ini dilaporkan bahwa telah terjadi penurunan sensitivitas pada penelitian in vivo terhadap berbagai strain Asia. Untuk strain lokal yang masih sensitf terhadap pengobatan maka obat-obatan oral seperti kloramfenikol, amoksisilin atau TMP-SMX (untuk anak-anak) masih cukup efektif untuk mengobati penderita akut. Sedangkan ceftriaxone obat parenteral yang diberikan sekali sehari sangat bermanfaat diberikan kepada penderita obtunded atau kepada penderita dengan komplikasi dimana tidak bisa diberikan pengobatan antibiotika oral. Pemberian kartikosteroid dosis tinggi dalam jagka pendek dikombinasikan dengan pemberian antibiotika serta terapi suportif membantu menurunkan angka kematian pada penderita berat. Untuk pengobatan kepada carrier lihat uraian pada bagian 9A11 diatas. Penderita schistosomiasis yang menderita tifoid selain 562 pemberian terapi untuk tifoidnya maka diberikan juga praziquantel untuk menghilangkan kemungkinan cacing schistosoma membawa basil S. Typhi

C. Penanggulangan wabah
1) Lakukan pelacakan secara intensif terhadap penderita dan carrier yang berperan sebagai smber peularan. Cari dan temukan media (air, makanan) yang tercemar yang menjadi sumber penularan.
2) Lakukan pemusnahan terhadap makanan yang diduga sebagai sumber penularan.  Lakukan pasteurisasi atau rebuslah susu yang akan dikonsumsi. Singkirkan seluruh suplai susu dan makanan yang diduga tercemar untuk tidak dikonsumsi pada saat sampai diketahui bahwa susu dan makanan tersebut aman untuk dikonsumsi.
 3). Terhadap sumber air yang diduga tercemar dilakukan klorinasi sebelum digunakan dengan supervisi yang ketat. Apabila tindakan klorinasi tidak dapat dilakukan, air dari sumber yang diduga tercemar tersebut jangan digunakan, semua air minum harus diklorinasi, diberi iodine atau direbus sebelum diminum.
4). Pemberian imunisasi secara rutin tidak dianjurkan.

D. Implikasi bencana
Di daerah/tempat penampungan pengungsi dimana persediaan air sangat terbatas dan fasilitas pembuangan kotoran tidak memadai serta tidak ada pengawasan terhadap makanan dan air, kemungkinan terjadi penularan demam tifoid sangat besar, apabila diantara para pengungsi tersebut terdapat penderita aktif atau carrier. Untuk mencegah terjadinya penularan dikalangan para pengungsi maka lakukan upaya untuk memperbaiki fasilitas penyediaan air minum dan fasilitas pembuangan kotoran. Pemberian imunisasi bagi kelompok-kelompok tertentu dapat dilakukan seperti terhadap anak sekolah, penghuni penjara, penghuni fasilitas tertentu, personil/staf rumah sakit atau terhadap pegawai kantor pemerintahan kabupaten/kota. Pemberian imunisasi terhadap kelompok ini cukup bermanfaat karena mereka hidup dalam komunitas yang terorganisir.

E. Tindakan internsional
1) Untuk demam tifoid: pemberian imunisasi dianjurkan untuk diberikan terhadap para wisatawan yang berkunjung kedaerah enemis, terutama apabila didaerah tersebut para wisatawan diduga akan terpajang dengan air dan makanan yang tercemar atau wisatawan diduga akan kontak dengan penduduk asli didaerah pedesaan. Imunisasi tidak diwajibkan bagi wisatawan yang akan berkunjung kesuatu negara.
 2) Untuk demam tifoid dan paratifoid manfaatkan pusat-pusat kerjasam WHO.

SUMBER
Anonim. 2008. Salmonella typhi.http://en.wikipedia.org/wiki/Salmonella_typhi.
Chin,James MD, MPH. Kandun, I Nyoman.2000. Manual Pemberantasan Penyakit Menular. Edisi 17. 

Razanahtulhaq Azzahra
E2A009089 R.1

Kamis, 09 Desember 2010

KEJADIAN LUAR BIASA (KLB) / WABAH

Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah suatu kejadian kesakitan/kematian dan atau meningkatnya suatu kejadian kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu kelompok penduduk dalam kurun waktu tertentu.
(Peraturan Menteri Kesehatan No. 949/Menkes/SK/VIII/2004).

Kep. Dirjen PPM&PLP No.451-I/PD.03.04/1991
àPedoman Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan KLB:
Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologis dalam kurun waktu dan daerah tertentu.

UU No. 4/1984 ttg WABAH PENYAKIT MENULAR
(pasal 1) Wabah penyakit menular yang selanjutnya disebut wabah adalah kejadian
berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah penderitanya
meningkat secara nyata melebihi daripada keadaan lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dpt menimbulkan mala petaka
(pasal 6) Menteri menetapkan jenis penyakit tertentu yang dapat menimbulkan wabah

Permenkes 560/MENKES/PER/VIII/1989
Penyakit potensial wabah:
1. Kholera
2. Pes
3. Demam Kuning
4. Demam Bolak-balik
5. Tifus Bercak wabah
6. DBD
7. Campak
8. Polio
9. Difteri
10. Pertusis
11. Rabies
12. Malaria
13. Influenza
14. Hepatitis
15. Tifus Perut
16. Meningitis
17. Ensefalitis
18. Antraks

Batasan KLB meliputi arti yang luas:
1. Meliputi semua kejadian penyakit, dapat suatu penyakit infeksi akut kronis ataupun penyakit non infeksi.
2. Tidak ada batasan yang dapat dipakai  secara umum untuk menentukan jumlah  penderita yang dapat dikatakan sebagai KLB. Hal ini selain karena jumlah kasus sangat tergantung dari jenis dan agen penyebabnya, juga karena keadaan penyakit akan bervariasi menurut tempat (tempat tinggal, pekerjaan) dan waktu (yang berhubungan dengan keadaan iklim) dan pengalaman keadaan penyakit tersebut sebelumnya.
3. Tidak ada batasan yang spesifik mengenai luas daerah yang dapat dipakai untuk menentukan KLB, apakah dusun, desa, kecamatan, kabupaten atau meluas satu propinsi dan negara. Luasnya daerah sangat tergantung dari cara penularan penyakit tersebut.
4. Waktu yang digunakan untuk menentukan KLB juga bervariasi. KLB dapat terjadi dalam beberapa jam, beberapa hari atau minggu atau beberapa bulan maupun tahun.

Apa saja kriteria suatu kejadian penyakit dikatakan wabah/ KLB ?
1.Timbulnya suatu penyakit/menular yg sebelumnya tidak ada atau tidak dikenal
2. Peningkatan kejadian penyakit/kematian terus menerus selama 3 kurun waktu berturut-turut menurut jenis penyakitnya
3. Peningkatan kejadian/kematian ≥ 2 x  dibandingkan dengan periode sebelumnya Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan ≥ 2 x bila dibandingkan dengan angka rata-rata per bulan tahun sebelumnya
5. Angka rata-rata per bulan selama satu tahun menunjukkan kenaikan ≥ 2 x dibandingkan angka rata-rata per bulan dari tahun sebelumnya
6. CFR suatu penyakit dl suatu kurun waktu tertentu menunjukkkan kenaikan 50% atau lebih disbanding CFR periode sebelumnya
7. Proporsional Rate penderita baru dr suatu
periode tertentu menunjukkan kenaikan ≥ 2 x dibandingkan periode yg sama dan kurunwaktu/tahun sebelumnya
8. Beberapa penyakit khusus: Kholera, DHF/DSS:
a.  Setiap peningkatan kasus dr periode sebelumnya (pd daerah endemis)
b. Terdapat satu/lebih penderita baru dimana pd periode 4 minggu sebelumnya daerah tsb dinyatakan bebas dari penyakit tsb
9. Beberapa penyakit yg dialami 1 atau lebih penderita:
a. Keracunan makanan
b. Keracunan pestisida

Apa yang dimaksud dengan “Herd Immunity” ?
Kekebalan Kelompok (Herd Immunity) Adalah tingkat kemampuan atau daya tahan suatu kelompok penduduk tertentu terhadap serangan atau penyebaran unsur penyebab penyakit menular tertentu berdasarkan tingkat kekebalan sejumlah tertentu anggota kelompok tersebut.
Herd Immunity merupakan faktor utama dalam proses kejadian wabah di masyarakat serta kelangsungan penyakit pada suatu kelompok penduduk tertentu.

 Apa yang seharusnya kita lakukan agar fenomena wabah/KLB dapat dicegah?
Upaya penanggulangan ini meliputi pencegahan penyebaran KLB, termasuk pengawasan usaha pencegahan tersebut dan pemberantasan penyakitnya. Upaya penanggulangan KLB yang direncanakan dengan cermat dan dilaksanakan oleh semua pihak yang terkait secara terkoordinasi dapat menghentikan atau membatasi penyebarluasan KLB sehingga tidak berkembang menjadi suatu wabah (Depkes, 2000).
Penanggulangan KLB :
a.    Masa pra KLB Informasi kemungkinan akan terjadinya KLB / wabah adalah dengan melaksanakan Sistem
Kewaspadaan Dini secara cermat, selain itu melakukakukan langkah-langkah lainnya :
1. Meningkatkan kewaspadaan dini di puskesmas baik SKD, tenaga dan logistik.
2. Membentuk dan melatih TIM Gerak Cepat puskesmas.
3. Mengintensifkan penyuluhan kesehatan pada masyarakat
4. Memperbaiki kerja laboratorium
5. Meningkatkan kerjasama dengan instansi lain

b.    Penyelidikan dan penanggulangan KLB
Upaya penanggulangan ini meliputi pencegahan penyebaran KLB, termasuk pengawasan usaha pencegahan tersebut dan pemberantasan penyakitnya. Upaya penanggulangan KLB yang direncanakan dengan cermat dan dilaksanakan oleh semua pihak yang terkait secara terkoordinasi dapat menghentikan atau membatasi penyebarluasan KLB sehingga tidak berkembang menjadi suatu wabah (Depkes, 2000).
Penanggulangan KLB dikenal dengan nama Sistem Kewaspadaan Dini (SKD-KLB), yang dapat diartikan sebagai suatu upaya pencegahan dan penanggulangan KLB secara dini dengan melakukan kegiatan untuk mengantisipasi KLB. Kegiatan yang dilakukan berupa pengamatan yang sistematis dan terus-menerus yang mendukung sikap tanggap/waspada yang cepat dan tepat terhadap adanya suatu perubahan status kesehatan masyarakat. Kegiatan yang dilakukan adalah pengumpulan data kasus baru dari penyakit-penyakit yang berpotensi terjadi KLB secara mingguan sebagai upaya SKD-KLB. Data-data yang telah terkumpul dilakukan pengolahan dan analisis data untuk penyusunan rumusan kegiatan perbaikan oleh tim epidemiologi (Dinkes Kota Surabaya, 2002).

c.     Pengembangan sistem surveilans termasuk pengembangan jaringan informasi Koordinasi kegiatan surveilans : lintas program dan lintas sektoral

Razanahtulhaq Azzahra
E2A009089
REG 1

Jumat, 12 November 2010

PENYELIDIKAN EPIDEMIOLOGI

Penyelidikan Epidemiologi terbagi dua, yakni :
a.  Penyelidikan  Epidemiologi penyakit menular seperti malaria, TB Paru, campak
b.  Penyelidikan Epidemiologi penyakit tidak menular seperti kematian ibu dan lahir mati/kematian bayi.
MALARIA
Sejarah
Penyakit malaria telah diketahui sejak zaman Yunani. Klinik penyakit malaria adalah khas, mudah dikenal, karena demam yang naik turun dan teratur disertai menggigil, maka pada waktu itu sudah dikenal febris tersiana dan febris kuartana. Disamping itu terdapat kelainan pada limpa, yaitu splenomegali : limpa membesar dan menjadi keras, sehingga dahulu penyakit malaria disebut demam kura.
Meskipun penyakit ini telah diketahui sejak lama. Penyebabnya belum diketahui. Dahulu diduga bahwa penyakit ini disebabkan oleh hukuman dari dewa-dewa karena waktu itu ada wabah di sekitar kota Roma. Ternyata penyakit ini banyak terdapat di daerah rawa-rawa yang mengeluarkan bau busuk di sekitarnya, maka penyakitnya disebut “malaria” (mal area= udara buruk =bad air).
Baru pada abad ke-19, Laveran melihat “bentuk pisang dalam darah seorang penderita malaria. Kemudian diketahui bahwa malaria ditularkan oleh nyamuk (Ross,1897) yang banyak terdapat dirawa-rawa.
Definisi
Malaria adalah infeksi Protozoa (Plasmodium), yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina.
Hospes
Parasit malaria termasuk genus Plasmodium. Pada manusia terdapat 4 spesies : Plasmodium vivax, Plasmodium falciparum, Plasmodium malariae dan Plasmodium ovale.
Distribusi geografik
Di Indonesia penyakit malaria ditemukan tersebar di seluruh kepulauan, terutama di kawasan timur.
Penularan penyakit malaria sangat tergantung pada nyamuk anopheles betina. Nyamuk  anopheles betina yang akan bertelur membutuhkan darah, bisa darah binatang, seperti burung dan reptil atau darah manusia.  Gigitan nyamuk pada manusia atau binatang yang telah terinfeksi parasit akan mengakibatkan nyamuk terinfeksi parasit yang kemudian menularkan parasit kepada manusia yang sehat melalui gigitan nyamuk tersebut.
Penyakit malaria dapat menimbulkan komplikasi berupa :
·         Gangguan sistem saraf pusat.
·         Gangguan ginjal akut.
·         Kelainan hati.
·         Perdarahan.
·         Bengkak paru.

Perjalanan penyakit:
  • Demam terjadi saat sporulasi dan destruksi eritrosit -> keluar zat pirogen -> demam
  • Anemia karena sporulasi dan destruksi Eritrosit
  • Terjadi Aglutinasi Erytrosit intravaskuler
  • Anoksia sel karena anemia dan aglutinasi
  • Hepatospleenomegali karena hypertrofi RES
  • Ikterus krn hemolisis eritrosit intravaskuler
  • Anemia Malaria oleh P. falsifarum lebih hebat daripada lain
Gejala klinis:
  • Masa tunas antara 10-14 hari
  • Fase prodormal: menggigil, demam, nyeri kepala, nyeri otot, anoreksi, lelah
  • Gejala khas: serangan berulang paroksismal, menggigil-demam-berkeringat-rekonvalesen
  • Ikterus, Anemia, Hepatomegali, Spleenomegali, Hipotensi postural, Urobilinuria
  • Plasmodium vivax: demam tiap hari ke 3
  • Plasmodium falsifarum: demam kurang 48 jam
  • Plasmodium malariae: demam tiap 72 jam
Penyelidikan Epidemiologi
Di suatu daerah malaria dapat terjadi epidemik (wabah), yaitu jika pada suatu waktu jumlah penderita meningkat secara tajam. Di suatu daerah keadaan malaria disebut stabil (stable malaria) jika di daerah itu ada transmisi yang tinggi secara terus menerus. Di daerah seperti itu biasanya kekebalan penduduk adalah tinggi sehingga tidak mudah terjadi epidemic. Di suatu daerah malaria tersebut tidak stabil (unstable malaria), jika transmisi di daerah itu idak tetap. Di daerah seperti ini kekebalan penduduk biasanya rendah, sehingga lebih mudah terjadi epidemic.
Berat ringannya infeksi malaria pada suatu masyarakat diukur dengan densitas parasit (parasite density) yaitu jumlah rata-rata parasit dalam sediaan darah positif. Berat ringannya infeksi malaria pada seseorang diukur dengan hitung parasit (parasite count) yaitu jumlah parasit dalam 1 mm3 darah.
Sifat malaria juga dapat berbeda dari satu daerah lain, yang banyak tergantung pada beberapa factor, yaitu : 1) parasit yang terdapat pada pengandung parasit 2) manusia yang rentan 3) nyamuk yang dapat menjadi vektor dan 4) lingkungan yang dapat menunjang kelangsungan hidup masing-masing.
1.      Parasit
Yang penting untuk penularan malaria ialah manusia yang mengandung stadium gametosit, yang dapat membentuk stadium infektif (sporozoit) di dalam nyamuk (vector). Sifat parasit juga dapat berbeda dari satu daerah ke daerah lain, terutama mengenai sensitivitas terhadap berbagai obat anti malaria. Sekarang telah banyak ditemukan P. falciparum yang resisten terhadap klorokuin. Di Indonesia resistensi ini makin lama makin tersebar di banyak daerah.

2.      Manusia
Keadaan manusia dapat menjadi pengandung gametosit, yang dapat meneruskan daur hidupnya dalam nyamuk, adalah penting sekali. Manusia ada yang rentan (suseptibel), yang dapat ditulari dengan malaria, tapi ada pula yang lebih kebal dan tidak mudah ditulari dengan malaria. Berbagai bangsa (ras) mempunyai kerentanan yang berbeda-beda (factor rasial). Pada umumnya pendatang baru ke sutu daerah endemic, lebih suseptibel terhadap malaria dari pada penduduk aslinya.

3.      Vektor
Nyamuk Anopheles di seluruh dunia meliputi kira-kira 2000 spesies, sedang yang dapat menularkan malaria kira-kira 60 spesies. Di Indonesia, emenurut pengamatan terakhir ditemukan kembali 80 spesies Anopheles, sedang yang ditemukan sebagai vector malaria adalah 16 spesies dengan tempat perindukannya yang berbeda-beda. Di Jawa dan Bali An. sundaicus dan An. aconitus merupakan vector utama, sedang An.subpictus dan An. maculates merupakan vector sekunder.

4.      Lingkungan
Keadaan lingkungan mempunyai pengaruh yang besar terhadap keadaan malaria di suatu daerah. Pengaruh iklim penting sekali terhadap ada atau tidaknya malria. Di daerah beriklim dingin, transmisi malaria hanya mungkin terjadi pada musim panas; juga masa inkubasinya dapat terpengaruhi oleh iklim. Di daerah yang kurang baik untuk biologi vektornya, kemungkinan adanya malaria adalah lebih kecil. Daerah pegunungan yang tinggi pada umumnya bebas malaria. Perubahan lingkungan yang dapat menyebabkan perubahan tempat perindukan vector, sangat berpengaruh terhadap keadaan malaria dan dapat mempunyai dampak yang positif atau negative terhadap keadaan malaria di daerah itu. Suhu udara, kelembaban dan curah hujan merupakan factor penting untuk transmisi penyakit malaria.
Kolam-kolam ikan bandeng merupakan man made breeding places untuk An. Sundaicus, sedang pengolahan sawah yang terus menerus merupakan man made breeding places untuk An.aconitus. Juga berbagai aktivitas pembangunan dapat menyebabkan terjadinya man made breeding places untuk vektor-vektor, sehingga keadaan malaria dapat memburuk dengan adanya pembangunan tadi yang perlu mendapat perhatian.

Pemberantasan

Pemberantasan dilakukan dengan mematahkan mata rantai daur hidup parasit, yaitu dengan memusnahkan parasitnya dalam badan manusia dengan pengobatan atau memusnahkan nyamuk vektornya dengan berbagai cara. Sebaiknya pemberantasan dilakukan dengan kedua cara serentak, yaitu mengobati pengandung parasit dan mehilangkan tempat perindukan vector atau membunuh vector dengan berbagai insektisida. Dalam pemberantasan malaria dapat dibedakan pemberantasan (control) dan pembasmian (eradication). Di Indonesia pada taraf sekarang dilakukan pemberantasan saja.
Pencegahan
Hal terpenting agar tidak terkena malaria adalah menghindari gigitan nyamuk. Beberapa langkah yang dapat dilakukan agar tidak tergigit nyamuk yaitu:
1.      Menggunakan jaring nyamuk/kawat kasa anti nyamuk pada pintu dan jendela
2.      Menggunakan kelambu saat tidur
3.      Menggunakan krim anti nyamuk
4.      Menyemprot kamar tidur dengan obat anti nyamuk pada malam hari sebelum digunakan
5.      Menggunakan pakaian yang sesuai (yang dapat menutupi bagian tubuh dengan baik dan berwarna cerah)
Pengobatan
Terdapat beberapa obat yang dapat digunakan sebagai pencegahan/profilaksis:

1. Klorokuin (300 mg basa, umumnya 1 minggu sekali).
2. Amodiakuin (300-400 mg basa, 1 minggu sekali).
3. Proguanil (100 mg setiap hari).
4. Pirimetamin (25 mg seminggu sekali).

Obat profilaksis/pencegahan umumnya diminum selama 4-8 minggu dan umumnya mulai diminum satu minggu sebelum bepergian ke daerah endemis malaria. Pemilihan obat mana yang akan digunakan bergantung kepada pola kekebalan kuman (pola resistensi) terhadap obat tersebut di suatu daerah. Selain itu dosis dapat berbeda-beda tergantung kepada pola parasit malaria yang ada di suatu daerah. Pada kasus anda, saya sarankan agar anda mencari info dari dinas kesehatan setempat mengenai jenis parasit malaria yang ada didaerah tersebut dan obat yang umumnya digunakan.

TB PARU (TUBERCULOSIS)
Sejarah

Bakteri penyebab TB berhasil ditemukan oleh Robert Koch, seorang dokter dan peneliti asal Jerman pada 24 Maret tahun 1882. Bakteri jenis basil ini kemudian dinamakan Basil Koch (Mycobacterium tuberculosa) , sesuai dengan nama penemunya. Dalam usahanya meneliti penyakit TBC, Robert Koch menghabiskan waktu lebih dari sepuluh tahun, termasuk penelitian di Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Indonesia selama satu setengah tahun. Pada tahun 1905, Koch dianugerahi hadiah Nobel bidang kedokteran. Penyakit TB sendiri adalah sebuah penyakit infeksi bakteri pada paru-paru yang sangat menular  (Anonim, 2008)

Definisi
Penyakit Tuberkulosis: adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis), sebagian besar kuman TB menyerang Paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.
Kuman Tuberkulosis :
Kuman ini berbentuk batang, mempunyai sifat khusus yaitu taha terhadap asam pada pewarnaan, Oleh karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA), kuman TB cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam ditempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat Dormant, tertidur lama selama beberapa tahun.


Mycobacterium tuberculosis
Kuman ini disebut juga basil dari Koch. Kuman ini amart penting karena menyebabkan penyakit tuberkulosis (TBC). Tuberkulosis juga disebabkan oleh Mycobacterium bovis pada lembu. Collins, Jates dan Granse (1982) membagi lima varian untuk  Mycobacterium tuberculosis untuk tujuan epidemiologi :
-    M.tuberculosis var. human (TBC manusia)
-    M.tuberculosis var. bovine (TBC lembu)
-    M.tuberculosis var human Asian (TBC manusia Asian)
-    M.tuberculosis var African I (M. africanum, AFrika Barat)
-    M.tuberculosis var African II (M. africanum, AFrika Timur)
(FK UI, 1993)

Habitat dan Sifat Bakteri
Bentuk bakteri Tuberculosis umumnya batang/ basil, tergolong gram positif, dan tahan asam, oleh sebab itu disebut juga Basil Tahan Asam (BTA). Selain itu bakteri ini tidak mempunyai kapsul dan tumbuh lambat pada perbenihan sehingga membutuhkan waktu 4-6 minggu. Bakteri ini tidak bergerak dan merupakan obligat aerob. Bakteri ini cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam ditempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat Dormant, tertidur lama selama beberapa tahun.
Di alam bakteri terdapat di dalam tanah. Debu-debu di udara, dan terutama berasal dari sputum penderita. (Entjang, 2003)

Penyebab TB
Penyakit TB adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mikobakterium tuberkulosa. Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam sehingga dikenal juga sebagai Batang Tahan Asam (BTA). Bakteri ini pertama kali ditemukan oleh Robert Koch pada tanggal 24 Maret 1882, sehingga untuk mengenang jasanya bakteri tersebut diberi nama baksil Koch. Bahkan, penyakit TBC pada paru-paru kadang disebut sebagai Koch Pulmonum (KP).
Berikut adalah bekteri penyebab Tuberkulosis:
·         Mycobacterium tuberculosis
·         Mycrobacterium bovis
·         Mycrobacterium africanum
·         Mycrobacterium canetti
·         Mycrobacterium microti
Penyelidikan Epidemiologi TB Paru yakni pencarian penderita/tersangka TB Paru dan segera melakukan pemeriksaan pada dahak penderita.
Cara Penularan Penyakit TBC
Penyakit TB biasanya menular melalui udara yang tercemar dengan bakteri Mikobakterium tuberkulosa yang dilepaskan pada saat penderita TBC batuk, dan pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC dewasa. Bakteri ini bila sering masuk dan terkumpul di dalam paru-paru akan berkembang biak menjadi banyak (terutama pada orang dengan daya tahan tubuh yang rendah), dan dapat menyebar melalui pembuluh darah atau kelenjar getah bening. Oleh sebab itulah infeksi TBC dapat menginfeksi hampir seluruh organ tubuh seperti: paru-paru, otak, ginjal, saluran pencernaan, tulang, kelenjar getah bening, dan lain-lain, meskipun demikian organ tubuh yang paling sering terkena yaitu paru-paru.
TB menular melalui udara apabila orang yang membawa TB dalam paru-paru atau tenggorokan batuk, bersin, atau berbicara, lalu kuman dilepaskan ke udara. Apabila orang lain menghirup kuman ini mereka mungkin terinfeksi. TBC dapat menular ke semua orang dan yang menularkan adalah mereka yang di dalam dahaknya terdapat kuman TB. Kebanyakan orang mendapat kuman TBC dari orang yang sering berada dekat dengan mereka, seperti anggota keluarga, teman, atau rekan sekerja. Pada anak-anak sumber infeksi umumnya berasal dari penderita TBC dewasa. TBC tidak menular melalui barang dan peralatan rumah, misalnya sendok garpu, periuk, gelas, seprai, pakaian atau telepon, jadi tidak diperlukan barang dan peralatan baru untuk kegunaan sendiri.
TB juga dapat ditularkan melalui susu. Cara penyebarannya melalui susu yang tidak steril (biasanya hanya dipanaskan sampai 60 derajat celcius). Susu ini kemudian dikonsumsi oleh orang yang sehat. Dalam hal ini usus merupakan tempat yang pertama. Kuman TB ini melalui sapi yang menderita TB.
Komplikasi Pada Penderita Tuberkulosis :
·         Hemoptisis berat (perdarahan dari saluran napas bawah) yang dapat mengakibatkan kematian karena syok hipovolemik atau tersumbatnya jalan napas.
·         Kolaps dari lobus akibat retraksi bronkial.
·         Bronkiectasis dan Fibrosis pada paru.
·         Pneumotoraks spontan: kolaps spontan karena kerusakan jaringan paru.
·         Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, persendian, ginjal dan sebagainya.
·         Insufisiensi Kardio Pulmoner (Cardio Pulmonary Insufficiency).
Gejala Penyakit TB
1)     Gejala sistemik/umum
·         Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan bersifat hilang timbul.
·         Penurunan nafsu makan dan berat badan.
·         Batuk berdahak 2-3 minggu atau lebih, batuk berdahak yang bisa dikuti oleh gejala dahak yang berdarah, sesak napas, badan lemas, nafsu makan turun, berat badan turun, depresi, berkeringat malam hari meski tidak melakukan kegiatan fisik dan demam meriang lebih dari 1 bulan.
·         Perasaan tidak enak (malaise), lemah.
2)     Gejala khusus
·         Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus (saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar, akan menimbulkan suara "mengi", suara nafas melemah yang disertai sesak.
·         Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan keluhan sakit dada.
·         Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini akan keluar cairan nanah.
·         Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan kesadaran dan kejang-kejang.

Tindak Lanjut
Karena yang menjadi sumber penyebaran TBC adalah penderita TBC itu sendiri, pengontrolan efektif TBC mengurangi pasien TBC tersebut. Ada dua cara yang tengah dilakukan untuk mengurangi penderita TBC saat ini, yaitu terapi dan imunisasi. Untuk terapi, WHO merekomendasikan strategi penyembuhan TBC jangka pendek dengan pengawasan langsung atau dikenal dengan istilah DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse Chemotherapy). Dalam strategi ini ada tiga tahapan penting, yaitu mendeteksi pasien, melakukan pengobatan, dan melakukan pengawasan langsung. Deteksi atau diagnosa pasien sangat penting karena pasien yang lepas dari deteksi akan menjadi sumber penyebaran TBC berikutnya. Seseorang yang batuk lebih dari 3 minggu bisa diduga mengidap TBC. Orang ini kemudian harus didiagnosa dan dikonfirmasikan terinfeksi kuman TBC atau tidak. Sampai saat ini, diagnosa yang akurat adalah dengan menggunakan mikroskop. Diagnosa dengan sinar-X kurang spesifik, sedangkan diagnosa secara molekular seperti Polymerase Chain Reaction (PCR) belum bisa diterapkan.
Jika pasien telah diidentifikasi mengidap TBC, dokter akan memberikan obat dengan komposisi dan dosis sesuai dengan kondisi pasien tersebut. Adapun obat TBC yang biasanya digunakan adalah isoniazid, rifampicin, pyrazinamide, streptomycin, dan ethambutol. Untuk menghindari munculnya bakteri TBC yang resisten, biasanya diberikan obat yang terdiri dari kombinasi 3-4 macam obat ini.
Dokter atau tenaga kesehatan kemudian mengawasi proses peminuman obat serta perkembangan pasien. Ini sangat penting karena ada kecendrungan pasien berhenti minum obat karena gejalanya telah hilang. Setelah minum obat TBC biasanya gejala TBC bisa hilang dalam waktu 2-4 minggu. Walaupun demikian, untuk benar-benar sembuh dari TBC diharuskan untuk mengkonsumsi obat minimal selama 6 bulan. Efek negatif yang muncul jika kita berhenti minum obat adalah munculnya kuman TBC yang resisten terhadap obat. Jika ini terjadi, dan kuman tersebut menyebar, pengendalian TBC akan semakin sulit dilaksanakan.
DOTS adalah strategi yang paling efektif untuk menangani pasien TBC saat ini, dengan tingkat kesembuhan bahkan sampai 95 persen. DOTS diperkenalkan sejak tahun 1991 dan sekitar 10 juta pasien telah menerima perlakuan DOTS ini. Di Indonesia sendiri DOTS diperkenalkan pada tahun 1995 dengan tingkat kesembuhan 87 persen pada tahun 2000 (http:www.who.int). Angka ini melebihi target WHO, yaitu 85 persen, tapi sangat disayangkan bahwa tingkat deteksi kasus baru di Indonesia masih rendah. Berdasarkan data WHO, untuk tahun 2001, tingkat deteksi hanya 21 persen, jauh di bawah target WHO, 70 persen. Karena itu, usaha untuk medeteksi kasus baru perlu lebih ditingkatkan lagi.


Pengobatan Penyakit TB
1)     Minum obat dengan teratur dan benar sesuai dengan anjuran dokter selama 6 bulan berturut-turut tanpa terputus. Jenis, jumlah, dan dosis obat yang cukup serta teratur dalam menjalankan proses pengobatan.Bila minum obat tidak teratur maka dapat berakibat kuman TBC tidak mati, tumbuh resistensi obat, kuman menjadi kebal sehingga penyakit TBC sulit sembuh.
2)     Makan makanan yang baik dengan gizi yang seimbang
3)     Istirahat yang cukup
4)     Berhenti merokok, hindari minum minuman beralkohol, dan obat bius
5)     Anggota keluarga ikut aktif dalam memperhatikan si penderita dalam meminum obatnya secara teratur dan benar
6)     Dianjurkan meminum obat dalam keadaan perut kosong (pagi)

CAMPAK

Campak merupakan jenis penyakit infeksi virus yang disebabkan oleh golongan campak Paramyxovirus, penyakit ini sangat menular yang dirandai dengan demam, batuk, konjungtivitas dan ruam kulit. Penularan dapat terjadi karena menghirup percikan ludah penderita campak. Penderita bisa menularkan infeksi dalam waktu 2-4 hari sebelum timbulnya ruam kulit dan 4 hari setelah ruam kulit ada. Masa inkubasi adalah 10-14 hari sebelum gejala muncul. Kekebalan terhadap campak diperoleh setelah melakukan vaksinasi.
Penyelidikan Epidemiologi campak yakni pencarian penderita/tersangka campak dan pemeriksaan keadaan lingkungan penderita dan kebiasaan penderita.
Campak dibagi dalam tiga fase, yakni :
1.      Fase Pertama adalah fase inkubasi berlangsung 10-12 hari. Fase ini penderita sudah terinfeksi tapi belum menampakkan gejala.
2.      Fase kedua merupakan awal timbulnya gejala yang mirip sekali dengan gejala flu. Biasanya di sebelah dalam mulut akan muncul bintik-bintik putih yang bertahan 3-4 hari. Terkadang penderita mengalami diare, dan kemudian demam tinggi yang turun naik berkisar 38-50°C.
3.      Fase ketiga keluarnya bercak merah yang merupakan ciri khas dari campak. Bercak ini muncul dengan cara bertahap sampai pada akhirnya timbul di seluruh tubuh penderita. Bercak ini disebut makulopapuler. Bercak akan memenuhi seluruh tubuh sekitar seminggu. Jika daya tahan tubuh penderita baik bercak tidak akan menyebar ke seluruh tubuh. Biasanya setelah bercak merah ini sudah keluar, demam akan turun dengan sendirinya. Bercak merah tersebut biasanya akan berubah menjadi kehitaman dan bersisik (hiperpigmentasi), lalu rontok dengan sebdirinya. Fase ini merupakan masa penyembuhan yang membutuhkan waktu sekitar 2 minggu.
Pendapat masyarakat umum biasanya kalau terkena campak hanya sekali dalam seumur hidup, ini merupakan anggapan yang salah. Karena setelah terkena campak pun apabila suatu saat kondisi lagi tidak baik, dapat kembali terkena campak. Anggapan tentang apabila terkena campak penderita tidak diharuskan mandi juga anggapan yang salah, melainkan kalau tidak mandi dikhawatirkan keringat yang melekat pada tubuh penderita menimbulkan rasa gatal yang mendorong penderita untuk menggaruk kulit dengan tangan yang tidak lagi bersih sehingga terjadi infeksi pada kulit.
Komplikasi
Komplikasi dapat terjadi jika kondisi tubuh tidak baik atau daya tahan tubuh yang tidak bisa menghambat penyakit lain masuk sehingga campak berakibat serius.
1.      Infeksi bakteri Pnemoniadan infeksi telinga tengah
2.      Kadang terjadi trombositopenia
3.      Ensefalitis (infeksi otak)

Tindak lanjut
·          Bila campaknya ringan, penderita cukup dirawat di rumah. Apabila campaknya berat atau sampai terjadi komplikasi maka harus dirawat di rumah sakit.
·          Penderita perlu dirawat di tempat tersendiri agar tidak menularkan penyakitnya kepada yang lain. Apalagi bila ada bayi di rumah yang belum mendapat imunisasi .
·          Beri penderita asupan makanan bergizi seimbang dan cukup untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya. Makanannya harus mudah dicerna, karena penderita campak rentan terjangkit infeksi lain, seperti radang tenggorokan, flu, atau lainnya. Masa rentan ini masih berlangsung sebulan setelah sembuh karena daya tahan tubuh penderita yang masih lemah.
·         Lakukan pengobatan yang tepat dengan berkonsultasi pada dokter.
·         Jaga kebersihan tubuh anak dengan tetap memandikannya.
·          Penderita perlu beristirahat yang cukup.
penyelidikan epidemiologi
Pada pertemuan koordinasi tersebut dilaporkan bahwa semua kasus Campak telah dilakukan Investigasi atau Penyelidikan Epidemiologi sebagai mana mestinya dengan diambil tindakan antara lain :
1.Pengambilan dan pemeriksaan spesimen
2.Pemberian vitamin A pada kasul
3.Penyuluhan kesehatan pada masyarakat
4.Pemantauan wilayah untuk menemukan kasus tambahan.

Melihat data tersebut, telah diambil beberapa kesimpulan sebagai langkah upaya penanggulangan yaitu :
1.    Melakukan pemantauan wilayah secara periodik dan terus menerus setidaknya selama 1 (satu) bulan sejak kasus terakhir atau 2 kali masa inkubasi. Pemantauan dilaksanakan pada lokasi wilayah sekitar rumah, sekolah dan tempat kerja penderita.
2.    Melakukan pemberian vitamin A pada penderita dan pengobatan untuk mencegah terjadinya komplikasi. Melakukan penyuluhan kesehatan pada masyarakat.
3.    Penanganan Cold Chain / Rantai dingin penyimpanan vaksin yang sesuai prosedur.
4.    Mempertahankan dan meningkatkan cakupan immunisasi.
5.    Verifikasi data cakupan immunisasi per desa hingga tingkat dusun dan RT.

Pengobatan
Pengobatan dapat dilakukan dengan istirahat yang cukup. Untuk menurunkan demam, diberikan asetaminofen atau ibuprofen. Jika terjadi infeksi bakteri, diberikan antibiotic.

KEMATIAN IBU
Penyelidikan epidemiologi kematian ibu adalah pencarian kejadian kematian ibu. Di Indonesia angka kematian ibu masih tergolong tinggi. Kematian ibu sering terjadi karena adanya pendarahan saat kehamilan atau melahirkan, infeksi, hipertensi kehamilan, serta oburtos yang tidak aman. Diantara faktor keempat ini yang mengakibatkan angka kematian ibu tinggi yakni adanya pendarahan. Penyebab terjadinya pendarahan karena adanya perlengketan ari-ari, robekan rahim atau otot-otot rahim yang mengendur akibat sering bersalin.
Kematian ibu dicerminkan pada resiko yang dihadapi ibu selama kehamilan dan melahirkan, yang dipengaruhi oleh status gizi ibu, kondisi social ekonomi, kejadian berbagai komplikasi kehamilan dan kelahiran, tersedianya dan penggunaan fasilitas pelayanan kesehatan. Kematian ibu biasanya terjadi pada seseorang yang memiliki keadaan sosial ekonomi yang rendah, fasilitas pelayanan kesehatan termasuk pelayanan prenatal dan obstetric.

Penyelidikan epidemiologi
investigasi data: memgumpulkan data angka kejadian
koleksi data,dengan kata lain membandingkan jumlah peristiwa kejadian kematian ibu tahun sebelumnya dengan data yang dikumpulkan saat kejadian sekarang sedang berlangsung.
·         Analisis data : menganalisis apakah kejadian kematian ibu mengalami penurunan atau peningkatan
·         kesimpulan: membuat kesimpulan hasil analisa data agar dapat mengetahui strategi penanganan kejadian kematian ibu,strategi ini membantu menenkan angka kematian ibu.

Tindak Lanjut
Pencegahan terjadinya pendarahan dapat dilakukan dengan memeriksakan secara rutin ke dokter mengenai kehamilannya, dan penting juga memeriksakan hemoglobin. Pemeriksaan hemoglobin biasanya sering dilakukan pada usia kehamilan bulan keenam dan ketujuh. Pemeriksaa ini sangat penting untuk menghindari kemungkinan anemia. Pada wanita yang hamil yang terkena anemia otot-otot rahimnya akan  melemah dan tidak segera menutup kembali pasca melahirkan yang bisa menyebabkan terjadinya pendarahan saat melahirkan.
Adapun program yang dilakukan oleh pemerintah untuk menekan angka kematian ibu yakni program maternal and child health, safe motherhood, gerakan sayang ibu, dan making pregnancy safer yang dilakukan oleh puskesmas atau dinas kesehatan setempat.

KEMATIAN BAYI / LAHIR MATI

Penyelidikan epidemiologi lahir mati / kematian bayi adalah pencarian kejadian kematian bayi Bayi adalah seorang manusia yang baru lahir sampai umur 12 bulan, namun tidak ada batasan yang pasti. Kematian bayi dibagi dua , yakni kematian neonatal (kematian di 27 hari pertama hidup) dan post neonatal (setelah 27 hari). Penyebab kematian pada saat lahir bisa terjadi karena adanya pendarahan yang luar biasa pada ibu yang akan melahirkan.
Bayi yang baru lahir biasanya diberi asupan makanan berupa air susu ibu (ASI). Ada dari beberapa calon ibu yang tidak bisa mengeluarkan air susu, ini biasanya karena beberapa faktor misalnya saya calon ibu kurang gizi saat hamil.
Banyak faktor yang berpengaruh pada infeksi bawaan lahir pada bayi dan berakibat pada kematian pada bayi. Faktornya itu yakni kesehatan ibu pada hamil dalam keadaan yang buruk/kurangnya asupan gizi yang baik saat hamil, infeksi maternal yang tidak diobati, calon ibu memiliki atau terjangkit penyakit menular yang ditularkan melalui hubungan seksual, infeksi saluran kemih, karioamnionitis, imunisasi ibu terhadap tetanus yang tidak lengkap, penatapelaksanaan persalinan yang belum memadai, pemotongan dan perawatan tali pusat yang tidak steril, serta kegagalan pemberian ASI dini dan eksklusif.
Fungsi imunologis pada bayi yang belum berkembang dengan baik berpengaruh terhadap angka kesakitan dan kematian karena infeksi bawaan bayi lahir. Terlihatnya cadangan precursor granulosit yang masih rendah dalam sumsum tulang, masih rendahnya aktivitas komplemen serum, dan masih rendahnya kesanggupan memproduksi antibody terhadapn antigen polisakarida bakteri dan lainnya, merupakan imunologis yang belum berkembang dengan baik. Ditambah lagi dengan sedikitnya IgG yang diperoleh dari ibu. Adapun kontak bayi dengan organisme yang potemsial patogenik. Mekanismenya terbagi  dalam tiga kategori, yakni pertama adanya infeksi saat intrautenin (transmisi memalui plasenta), kedua infeksi saat persalinan, dan ketiga infeksi pascanatal yang berasal dari ibu setelah melahirkan dari lingkungan dan rumah sakit.
Calon ibu yang menghidap penyakit infeksi seperti rubella, HIV, herpes simplex, hepatitis dapat menularkan ke janinnya. Ini berdampak pada bayi yang akan lahir. Bayi yang akan lahir akan mati/calon ibu mengalami keguguran, cacat bawaan, retardasi pertumbuhan pada janin dalam kandungan prematuritas, bisa saja terjadi bayi tidak tampak sakit melainkan bayi terlihta normal.

Tindak Lanjut
      Untuk menekan angka kematian pada anak, pemerintah beserta dinas kesehatan mengadakan program maternal and child health, safe motherhood, gerakan sayang ibu, dan making pregnancy safer di setiap daerah. Agar para calon ibu mengetahui cara-cara yang baik dalam menjaga kandungannya dan melakukan tindakan tegas pada praktek kesehatan yang tidak jelas.
Dalam pencegahannya seorang calon ibu harus secara rutin melakukan pemeriksaan kandungannya ke rumah sakit, seorang calon ibu harus cukup gizi guna memberi asupan gizi yang baik pada calon bayi, memberikan vaksin/imunisasi aktif pada ibu hamil, calon ibu harus dalam keadaan kondisi yang sehat dengan berolahraga.

PencegahanAngka kematian bayi baru lahir dapat dicegah dengan intervensi lingkungan dan perilaku. Upaya penyehatan lingkungan seperti penyediaan air minum, fasilitas sanitasi dan higienitas yang memadai, serta pengendalian pencemaran udara mampu meredam jumlah bayi meninggal. "Untuk itu pemerintah tidak lelah mengampanyekan pentingnya upaya kesehatan lingkungan dan perilaku hidup sehat”. Perawatan sederhana seperti pemberian air susu ibu (ASI) dapat menekan AKB. Telah terbukti, pemberian ASI eksklusif dapat mencegah 13% kematian bayi dan bahkan 19/0 jika dikombinasikan dengan makanan tambahan bayi setelah usia 6 bulan.
Penyelidikan epidemiologiinvestigasi data: memgumpulkan data angka kejadian
koleksi data,dengan kata lain membandingkan jumlah peristiwa kejadian kematian bayi lahir mati tahun sebelumnya dengan data yang dikumpulkan saat kejadian sekarang sedang berlangsung.
Analisis data : menganalisis apakah kejadian kematian bayi lahir mati mengalami penurunan atau peningkatan
kesimpulan: membuat kesimpulan hasil analisa data agar dapat mengetahui strategi penanganan kejadian kematian bayi lahir mati,strategi ini membantu menekan angka kematian bayi lahir mati.

Razanahtulhaq Azzahra
E2A009089